Sabtu, 12 Juni 2010

Tahukah Kau??

Entah sejak kapan ku mulai menyadari ini
Sesuatu yang sangat indah
Sesuatu yang sangat berarti untuk ku
Ku tau ku tak pantas merasakan ini
Namun ku terlanjur masuk
Kedalam kobaran api yang menyala sangat besar

Andai saja kau tahu
Betapa ku mengharapkanmu
Lebih dari segala yang terbaik untuk ku
Andai kau tahu betapa berat pengorbananku
Untuk mu..

Melawan kuat arus yang menghalangiku
Namun ku tak peduli semua itu
Ku tentang para penghidupku
Kau tahu??
Semua itu untukkau
Kau yang mengisi kekosongan di relung hatiku

TAMAK

Iba
Kata yang tak pernah ku dengar
Dari seekor kancil
Yang tega menghabiskan wortel pak tani

Iba
Kata yang tak pernah ku dengar
Dari mulut monyet
Yang telah sampai di puncak pohon pisang

Iba
Kata yang tak pernah ku denagr
Dari para lintah darat
Yang telah mengambil hartarakyat

Iba
Kata yang kini terdengar klise
Bibir mengucap.. Hati bersorak
Tak ada lagi kemurnian
Dari semua yang dilontarkan mulut
Tentang satu kata
“IBA”

Semua karna telah hilangnya hati nurani
Semua karena setan yang merasuk hati
Rasa tamak merajai
Hati yang kerdil

Hingga kini
Semua si miskin tak lagi punya harta
Dan si kaya semakin Tamak
Itulah kenyataan yang harus kita hadapi hidup ini

SENANDUNG RINDU

Dalam malam sepi
Ku terngiang kasihmu
Belaian tanganmu
Kearifanmu
Semua tentang mu
Ku rindu ayah

Tak pernah ku berfikir
Kau mendahuluiku secepat itu
Ingin ku berteriak
“ Jangan Pergi”
Tapi apa daya??
Ku hanya hamba yang menyembahnya

Tuhan…
Izinkan Aku melihat senyumnya
Izinkan aku merasakan belaianya
Izinkan aku mencium keningnya
Izinakan aku mencium tanganya
Izinkan aku menunjukan bahwa aku
Bisa menjadi anak baik baginya
Izinkanlah walau hanya
Dalam mimpi
Ayah….. Aku merindukanmu

Petani Tua itu Menangis

Petani tua…
Kini asanya dipendam dalam dalam
Kala pertiwi tak lagi menghidupinya
Hanya harapan terpendam

Siang malam bersama sang kekasih
Selalu menemani setiap detik yang dilauinya
Cangkul tua yang kini mulai rapuh
Saksi bisu atas jasa jasanya

Saat tanah mulai kering
Saat hujan tak lagi turun
Peluh mulai bercucuran
Dengan izin sang buaya ia mulai mengambi air
Demi tumbuhnya sang benih

Higga kini
Hingga rambut mulai putih
Hingga kulit mulai keriput
Hingga gigi perlahan hilang dari tempatnya
Hingga kaki tak lagi kuat menopang tubuhnya

Tak ada yang bisa ia perbuat
Kehilanagn kegagahan bagai kehilangan hidupnya
Tanpa anak tanpa cucu

Masa tua kini dilaluinya sendirir
Semua karena pengabdianya terhadap bangsa
Hingga ia tak peduli lagi terhadap hidupnya

Sesal kini bersarang dalam hati
Karena bangsa yang diperrjuanngkanya
Tak pernah ingat akan jasa jasanya
Tak ada yang peduli
Masa muda telah dihabiskanya
Kini ia menangis sendiri
Tanpa teman dan kerabat
Dan tangisan itu
Simbol dari penyesalannya

KASIH MAMA

Lembut belaimu
Lembut kasihmu
Lembut cintamu
Rasa itulah akudapat
Dari tangan indahmu
Mama…

Kerlingan matamu terlihat lesu
Wajahmu tak lagi berseri
Tanda kau lelah
Namun belaimu tetap tulus
Tak pandang ku melakukan apa
Tak pandang ku telah merepotkanmu
Dari kecil hingga dewasa

Kasihmu sepanjang masa
Cintamu abadi
Kini ku ingin belajar darimu
Belajar mencintai sepenuh hati
Seperti kau mencintaiku
Terima kasih mama
Aku mencintaimu…

Harga

Berapa kita harus membayar
Untuk pahlawan yang rela mati
Berapa kita harus membayar
Untuk ibu yang telah melahirkan dan merawat kita
Berapa yang harus kita bayar
Untuk guru yang telah mendidk kita
Berapa yang harus kita bayar
Untuk perjuangan ayah siang dan malam

Pernahkah terbesit dalam benak kita
Semua itu butuh pengorbanan
Semua melakukan segalanya demi kita
Semua yang terbaik untuk kita

Buka matamu nak..
Semua tak lagi mudah
Semua tak sendiri
Semua butuh jasa mereka

Akankah kita bermalas malasan seperti ini
Menyia-nyiakan semua pengorbanan mereka
Tanpa rasa bersalah
Hambur hamburkan uang
Bolos sekolah
Memaki ibu

Tanpa kita sadari
Kita telah menjadi manusia
Yang tidak tah balas budi

Derita

Apa dia tahu
Ku menangis karenanya
Ku tak terjaga karenanya
Ku terluka karenanya

Setiap malam hanya asa terpendam
Terukir di dada
Tapia pa daya?
Semua sirna karenanya

Ku tak lagi bebas
Ku tak lagi bahagia
Semua hanyalah palsu
Ku bagai seekor burung
Yang terpenjara dlam sangkar

Tak bisa terbang
Bersama kawanan burung yang lain
Hnanya bisa memandang
Dan menangis dalam hati
Inikah takdirku??
Apa memang ini jalan tuhan
Yang mengharuskan ku terpenjara??