Sabtu, 12 Juni 2010

Petani Tua itu Menangis

Petani tua…
Kini asanya dipendam dalam dalam
Kala pertiwi tak lagi menghidupinya
Hanya harapan terpendam

Siang malam bersama sang kekasih
Selalu menemani setiap detik yang dilauinya
Cangkul tua yang kini mulai rapuh
Saksi bisu atas jasa jasanya

Saat tanah mulai kering
Saat hujan tak lagi turun
Peluh mulai bercucuran
Dengan izin sang buaya ia mulai mengambi air
Demi tumbuhnya sang benih

Higga kini
Hingga rambut mulai putih
Hingga kulit mulai keriput
Hingga gigi perlahan hilang dari tempatnya
Hingga kaki tak lagi kuat menopang tubuhnya

Tak ada yang bisa ia perbuat
Kehilanagn kegagahan bagai kehilangan hidupnya
Tanpa anak tanpa cucu

Masa tua kini dilaluinya sendirir
Semua karena pengabdianya terhadap bangsa
Hingga ia tak peduli lagi terhadap hidupnya

Sesal kini bersarang dalam hati
Karena bangsa yang diperrjuanngkanya
Tak pernah ingat akan jasa jasanya
Tak ada yang peduli
Masa muda telah dihabiskanya
Kini ia menangis sendiri
Tanpa teman dan kerabat
Dan tangisan itu
Simbol dari penyesalannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar